Bukan hal yang aneh ketika suatu hal yang kita ingin lakukan, yang kita inginkan, yang kita impikan akhirnya kita lepaskan untuk pergi atau tak dapat diraih karena terhalang oleh beberapa faktor dan akhirnya membuat kita kecewa, sedih dan ingin marah pada sesuatu, seseorang, tapi terkadang tidak tahu terhadap apa kita sebenarnya akan marah. Atau mungkin marah pada diri sendiri. Menangis adalah hal yang selalu membuatku tenang ketika dalam kondisi seperti itu. Inilah yang ku alami hari terakhir ini sebelum mem-post tulisan ini.
kerinduanku adalah melanjutkan sekolah ku dengna mendapatkan beasiswa dan beasiswa itu pun adanya di luar Indonesia. Taiwan, iyaa itulah tempat dimana aku ingin melanjutkan studi ku.
Selama 2 minggu terakhir ku persiapkan segala berkas yang dibutuhkan, aku mencari informasi kesana kemari, mencari tempat untuk test Toefl, mempersiapkan uang untuk biaya test Toefl tersebut, sudah ku cari tau informasi Prof di Universitas Taiwan yang ingin ku tuju dan bahkan sudah menanyakan ke pembimbing beasiswa gimana bentuk e-mail yang akan dikirim dan ada juga yang telah ku siapkan sebelumnya, sudah ku ketik berkas Study Plan, CV berbentuk autobiograpi, surat rekomendasi untuk kampus asal dan semuanya itu dalam bentuk bahasa Inggris. Ku habiskan banyak waktu ku disana mempersiapkan segala sesuatunya.
Aku juga begitu semangat untuk mengajak temanku untuk ikut serta dan dia sudah mendapat ijin dari kedua orang tuanya.
Semalam, 10 April 2014 adalah waktu yang sudah ku siapkan untuk memberitahu kedua orang tuaku akan hal itu. Denagn penuh semangat ku telepon dan begitu banayk pembicaraan sebelum inti pembicaraan.
Percakapan pun menjadi hening ketika ku beritahu kerinduanku, di dalm hati aku sudah berpikir tidak akan di ijinkan. Ibuku yang bicara, sementara ayahku hanya menyahuti disamping ibuku dan mengeluh akan kakinya yang kambuh lagi.
Ku tahan air mata ku selama ibuku bicara dan ku tau beliau sudah tahu bahwa aku sudah menangis. Hal yang paling membuat hatiku sakit adalah adalh ketika ibuku bilang "bukan kami tak mau kamu melanjut kuliah, Taiwan sangat jauh bahkan abang mu pun ada di Papua sebenarnya gak akan ku ijnkan untuk tetap disana dalam waktu yang lama. Kamu anak paling kecil, kalian cuma empat orang, abang mu yang pertama pun tak akur dengan kami, jadi siapa nanti yang akan menjaga kami? kami sudah tua, bahkan kamu lihatnya bahwa kami sudah sakit - sakit, aku tak yakin lagi bahwa dalam setahun ini akan bisa terlewati(ini posisi yang paling menyedihkan, menyayat hati). Kalau kamu pergi, sama siapa kami akan mengadu? jadi tidak usah pergi dan tenangkanlah hatimu".
Ku pikirkan kembali akan kondisi keluarga ku yang belum ada baiknya, aku mengerti dan sangat mengerti kenapa mereka melarangku. Inilah yang selalu ku pikirkan dan membuatku terkadang menyesali keberadaanku sebagai anak paling bungsu. Diantara semua saudara ku mungkin aku yang selalu mempunyai niat untuk belajar dan besar kerinduanku untuk melanjutkan segala hal yang ku rindukan dan sering kali terhalang oleh keluargaku. Aku menerima alasan mereka tidak mengijinkanku, karena sebelum ku persiapkan segala hal untuk beasiswa itu hal itu juga yang sudah terpikirkan di kepalaku. Tapi aku meyakinkan diri bahwa mereka pasti baik - baik saja dan akan menyetujuinya karena pasti mereka akan bangga bila aku mendapatkan beasiswa.
Hal yang begitu kuat ku genggam harus ku lepaskan juga. Selama aku menangis banayk hal yang datang di pikiranku, bahakn pikiran negatif pun bermunculan dan semakin membuatku menangis. Aku menangis dan menangis. Aku marah pada-Nya dan ingin sekali menceritakan segala hal yang ku rasakan malam itu pada orang lain. Aku melihat semua daftar kontak yang ada di Hp-ku dan tak ku temukan seorangpun untukku yang tepat dalam berbagi. Dalam hati ku tau sebenarnya kemana aku tepatnya mengadu tapi aku tak ingin datang pada-Nya karna rasa kecewa sudah memenuhi hatiku. Bahkan saat seperti ini pun tak ada orang yang bisa ku hubungi, pikirku. Karena capek menangis, akhirnya aku tertidur. Kira2 jam setengah 3 pagi aku terbangun dan aku kembali menangis karena langsung teringat apa yang baru saja terjadi. Ku lihat tumpukan kertas yang telah ku siapkan, aku ingin membakarnya tapi tak ku lakukan.
Tuhan, kenapa jawabannya tidak, aku merindukan hal ini begitu lama. Kenapa tidak Engkau ijinkan orang tuakau untuk pulih total dari rasa sakit mereka dan mengijinkan aku untuk melanjutkan studi ku? Isakku dalam tangisanku.
Banyak hal yang ingin ku keluhkan tapi semuanya itu ku tahan karna ku tau tak akan memperbaiki keadaan, akhirnya aku hanya menangis, menangis dan menangis.
Bunyi alarm membuatku terbangun untuk saat teduh seperti biasanya, ku matikan dan tak bisa ku buka mataku. Aku bangun dan melihat ke kaca. mataku bengkak dengan hebatnya dan melihat bola mataku hampir tak terlihat. Aku tak melakukan kebutuhan rohani ku pagi itu, aku mengambil air untuk mengkompres mataku karna ku pikir tak akan mambawa ini kekerjaan. Kebaktian di tempat kerja yang diadakan tiap hari pun tak ingin ku hadiri. Aku yang biasanya datang tepat waktu tak ku hiraukan jam sudah mengarah kemana, mataku juga seperti tidak ada guna di kompres.
Seharian di kerjaan, pekerjaan ku tak beres. Mengambil darah satu orang hingga satu jam. Banyak spuit yang terbuang, tidak peduli apa yng sudah ku lakukan terhadap pasien aku hanya ingin sendiri tapi ku paksa diriku untuk melanjutkan kerjaanku.
Di laboratorium yang biasnya aku paling ribut, aku hanya diam dan tak ingin diajak bicara. Aku ingin sendiri. Aku ingin ke tempat yang membuat tenang, aku tak ingin balik ke kost ku melihat kertas itu.
Ketika suatu hal yang ku genggam terlepas dari tanagnku, seakan semua hilang dariku. Seakan tanganku tak bisa menggemgam suau hal untuk diriku.
Ku menata hati dengan yang bisa ku lakukan.
Tuhan,,
jika memang bukan saat ini, aku hanay ingin Engkau yang mengambil bagian di hatiku agar tidak lupa akan semua kasih-Mu. Jangan biarkan berlarut kesedihan dan kekecewaan ini. Bila orang tua ku memang menginginkan aku disini, mampukan aku untuk menerima dan tida hanya memikirkan diriku sendiri.
Genggaman yang terlepas itu akan buat untuk menjadi milikukku kembali dengan cara aku melipat tanganku dan datang pada-Mu.
Eki ...
Semangaattttt laaa..
Life must go on baby.
Gb :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar